Jumat, 10 April 2015

Langee, Pesona Alam yang Terpendam

Hamparan Hutan Langee - Foto Chaideer Mahyudin
MENJELANG siang, pertengahan Januari lalu. Saya berada di antara belasan lelaki yang tengah berjalan tertatih; berusaha keluar dari lebatnya hutan di perbukitan Glee Leumoe di pedalaman Lampuuk, Aceh Besar.


Area perbukitan Glee Leumoe yang berada di kecamatan Lhoknga itu bersambung dengan perbukitan Cot Goh yang juga terletak di kecamatan yang sama.

Betuknya seolah mengangkang, menghadap laut. Di celah itulah lokasi yang hendak kami tuju berada. Langee namanya.

Berada jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota dan desa, kabarnya Langee adalah sebuah pantai dengan segala kemurnian isi yang dikandungnya.

Maka itu, rasa penasaran mengunjungi Langee membuat saya mendaftarkan nama pada Aceh Adventures. Sebuah ‘tour guide operator’ (pemandu wisata) yang baru dibentuk dan saat itu akan melakukan soft lounching di Langee.

Total anggota rombongan sebanyak 24 orang yang terbagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama telah berhasil menembus Glee Leumoe dan berada di Langee. Mereka datang sehari sebelumnya. Sementara kami sedang dalam perjalanan, dan kelompok terakhir akan menyusul menjelang sore hari.

Para peserta berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari komunitas pecinta alam, fotografer, wartawan, cameramen, hingga tenaga pendidik.

“Mengawali perjalanan ini, mari berdoa menurut keyakinan masing-masing,” ujar Syahrol Rizal, lalu ia menunduk dengan mata terpejam dan mulut mulai merapal doa. Anggota yang lain juga melakukan hal yang sama.

Perjalanan dimulai. Bagaikan pasukan tempur yang tengah melakukan operasi militer, mereka terlihat gagah dengan tas ransel sarat muatan melekat di punggung mereka.

Mulanya terlihat biasa. Ada senyum yang menyembur, lalu mulai ada raut yang mengerut dan juga terdengar nafas yang terengah. Semua itu melukiskan betapa perjalanan itu mulai menciptakan kelelahan.

Kecuali karena beban yang dipikul, saya pikir medan tempuh juga menyumbang andil besar terhadap kelelahan itu. Tapi apa mau dikata, tak ada jalur mulus lain kecuali mengikuti jalan setapak yang penuh dakian dan turunan itu.

Arif Munawwar Ahadi adalah yang bertindak sebagai pemandu. Ia tahu arah yang dituju karena telah mengunjungi lokasi itu sebelumnya. Beberapa kali ia memberi semangat. “Gak jauh lagi,” kata dia. Selang beberapa saat dia kembali berujar, “Setelah turunan itu akan tiba.” Dia juga memberi gambaran dengan ukuran waktu jam, “Sepuluh menit lagi.” “Lima menit lagi.” Yang pada akhirnya saya tahu itu hanya trik belaka.

Langgee tak kunjung kami gapai setelah menuruni turunan terjal itu, tak juga setelah menanjak puncak setelahnya. Begitupun tentang “sepuluh menit lagi” dan “Lima menit lagi.” “Kalau saya bilang masih jauh, nanti semangat kita hilang,” ujar dia beralasan sambil tertawa.

Perjalanan telah memasuki lebih dalam ke area hutan, kini kelelusaan berjalan mulai lebih terasa. Ada alur-alur sungai kecil yang menjalar dengan arah juga menuju Langee. Kami berada pada tujuan perjalanan yang sama. Alur-alur itu sedang tak berair, kami berjalan di dalamnya.

Hampir semua pejalan kini memasang wajah yang sama; wajah lelah dibasah peluh dengan bibir putih memudar. Juga Arif si pemandu. Namun, si pemandu sepertinya masih tampak lebih ceria. Dia berlari jauh ke depan, menunggu kami, mencari sudut pandang yang tepat, lalu “Ceprattt,” entah bidikan kameranya akurat.

Pada lain waktu dia juga tampak membiarkan dirinya tertinggal jauh di belakang, juga untuk melakukan hal yang sama. Entah itu sebagai hobi atau memang untuk dokumentasi, kerana pada kondisi seperti itu, tidak banyak bertanya akan jauh lebih baik daripada banyak bertanya.

Amri, kawan saya, melilit kain kecil di kepalanya, memikul ransel yang padat isi. Nafasnya terengah, tapi dia bergembira, nanti akan menjadi malam pertama ia tidur memakai hammock (ayunan) baru, kemarin hari kami membelinya di Neusu. Dia juga memikul kamera dan sebuat trheepot. “Nanti kita buat video di sana,” ujarnya.

Setelah mengayun langkah selama satu setengah jam, lokasi yang dituju akhirnya berbau samar. Ada debur ombak yang terdengar pecah di pantai. Saya mempercepat langkah. Saat itu, ada degup bahagia bertalu di dada. Ada angin lembut membelai wajah dan menurut cerita yang beredar, ada laut yang terhampar dengan pantai berpasir putih tengah menunggu kami di sana.

Sejenak bersalaman dengan teman-teman dari kelompok pertama. Saya berlari menapaki anak bukit yang diselimuti padang rumput hijau. Ariska, fotografer MJCnews.com, juga melakukan hal yang sama.

***

Matahari siang membakar dengan sengaja. Saya dan Ariska masih bertahan di bukit. Kami memandangi Langee dengan segala keagungan isi yang dimilikinya.

Sejauh mata memandang terhidang hamparan pantai dengan pasir putih yang landai, kemudian disusul deretan bongkahan batu cadas berwarna hitam yang meliuk-melikuk sepanjang garis pantai. Di sana juga terlihat sebuah goa batu mungil nan alami, serta aliran sungai yang tenang.

Tak jauh dari kami duduk terdapat sebuah benteng pertahanan Belanda. Posisinya menghadap laut. Menatap dari atas benteng, akan terhampar pandangan pantai, laut biru bergelombang dan tentu saja segala aktifsitas lalu-lalang perahu nelayan.

pantai-langee-aceh-besar

Mungkin sulit menjelaskan. Langee adalah pantai, pada waktu dan lokasi bersamaan Langee juga merupakan sebuah goa, Langee adalah padang rumput hijau dan Langee adalah aliran sungai yang tenang.

Tentang goa, jaraknya dengan bibir pantai hanya sepuluhan meter. Ia terletak persis di sisi sungai, dan jarak sungai dengan pantai juga hanya sekitar sepuluh meter. Air nan bening di dalamnya bersumber dari alur-alur kecil yang melingkari bukit.

Sungai bukan hanya sebagai pelengkap alam semata, ia dihuni ikan, udang dan kerang dalam jumlah yang tak mungkin dihitung jari.

Pendiskripsian Langee juga terasa belum lengkap sebelum menuliskan secuil kisah peradaban burung beee eater yang bermukim pada bukit kecil, tempat kami tengah duduk melepas lelah. Ia adalah bukit dengan ukuran mini yang terdapat di pinggir pantai dengan padang rumput hijau membalutinya.

Burung dengan warna memukau itu tampak jinak. Mereka mengepak sayap tanpa ragu seakan merasa sangat berhak menguasai tempat huniannya.

Kecuali semua itu, juga terdapat sebuah balai di Langee. Ukurannya lumayan untuk menampung sekitar dua puluhan orang. Tak pasti siapa yang mendirikan balai tersebut.

Itulah sepenggal kisah Langee. Kami lalu menikmati santap siang bermenukan udang segar. Beberapa saat kemudian, tampak beberapa orang kembali muncul dari balik hutan. Mereka adalah rombongan terakhir.


Tak lama, malam mulai turun dengan santun. Angkasa tampak redup. Awan hitam membentang, lalu hujan deras mengguyur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar